Bingkai Kaderisasi dalam Komisariat UM

aaa

Telah menjadi kesepakatan bersama bahwa kaderisasi dan pembinaan adalah napas utama dari pergerakan. Apabila sebuah pergerakan ingin tetap terus bertahan, eksis, berupaya memberikan kontribusi terbaiknya bagi ummat, maka parameter mutlak yang menjadi syarat utama adalah bagaimana keberjalanan proses kaderisasinya. Karakter KAMMI sebagai harokatu tajnid menuntut konsekuensi logis akan kebutuhan proses pembinaan yang berjalan secara sistemik dan berkesinambungan demi mewujudkan cita-cita bersama organisasi, yakni: bangsa dan negara Indonesia yang Islami.

Alat yang paling efesien untuk mengirim stimulus-stimulus ilmu pada bakal calon atau kader KAMMI adalah melalui dauroh. Dauroh merupakan sarana paling efektif untuk mewujudkan pembinaan global di ranah KAMMI. KAMMI sebagai organisasi pengkaderan memiliki instrumen kaderisasi yang terbingkai dalam Manhaj Kaderisasi 1433 H. Turunan dari penjabaran Manhaj tersebut adalah terbinanya kader KAMMI yang secara konseptual membentuk Muslim Negarawan, yang pada gilirannya mampu memimpin di berbagai sektor kehidupan dalam fase mihwar daulah dalam kontribusinya di ranah publik kenegaraan. Demi menunjang hal tersebut, setiap kader KAMMI diharuskan memiliki kompetensi wajib di bidang aqidah, fikrah dan manhaj perjuangan, akhlak, ibadah, tsaqofah keislamanan, wawasan ke-Indoneisaan, kepakaran dan profesionalitas, kemampuan sosial politik, pergerakan dan kepemimpinan, serta pengembangan diri. Oleh karena itu, melalui dauroh lah tema-tema diatas dapat diperoleh secara baik.

Mari mempersempit masalah mengenai dauroh ini, tepatnya dauroh di komisariat UM. Dauroh – dauroh di UM yang selama ini dijalankan hanya Daurah Marhalah 1, dauroh yang lainnya belum berjalan. Masalah yang sering terjadi adalah misskoordinasi, yang tepatnya bersumber dari komunikasi. Komunikasi yang terpilin diantara panitia teknis dan perangkat DM. Masalah komunikasi ini memang terlihat sederhana, tapi kalau dilihat lebih dalam lagi, masalah ini bisa membesar kalau sudah merambat ke beberapa divisi yang sampai pada hari H belum terselesaikan.

Menjalankan dauroh secara sederhana, selain mencontoh dengan Manhaj Kaderisasi yang bertujuan untuk membina kader KAMMI  secara konseptual membentuk Muslim Negarawan, yang pada gilirannya mampu memimpin di berbagai sektor kehidupan dalam fase mihwar daulah dalam kontribusinya di ranah publik kenegaraan. Tetapi satu hal yang harus digarisbawahi adalah komunikasi, sekecil apapun celah misskomunikasi akan merusak

Beberapa kali saya sempatkan membahas persoalan kaderisasi dengan rekan saya di komisariat, jawaban seragam yang muncul membawa saya pada satu kesimpulan, yakni kegagalan KAMMI melakukan proses kaderisasi mandiri. Memang, tak bisa dipungkiri, relasi kekuasaan dan politik praktis telah membawa KAMMI dalam dilema berkepanjangan dalam merumuskan ideologinya, yang pada akhirnya berimplikasi pada aksiologis gerak KAMMI secara taktis di lapangan.

KAMMI sebagai organisasi pengkaderan memiliki instrumen kaderisasi yang terbingkai dalam Manhaj Kaderisasi 1433 H. Turunan dari penjabaran Manhaj tersebut adalah terbinanya kader KAMMI yang secara konseptual membentuk Muslim Negarawan, yang pada gilirannya mampu memimpin di berbagai sektor kehidupan dalam fase mihwar daulah dalam kontribusinya di ranah publik kenegaraan. Demi menunjang hal tersebut, setiap kader KAMMI diharuskan memiliki kompetensi wajib di bidang aqidah, fikrah dan manhaj perjuangan, akhlak, ibadah, tsaqofah keislamanan, wawasan ke-Indoneisaan, kepakaran dan profesionalitas, kemampuan sosial politik, pergerakan dan kepemimpinan, serta pengembangan diri. Dengan segala macam tata ukur tersebut, saya sering membayangkan bahwa seorang Muslim Negarawan pada haikatnya adalah manusia super yang tanpa cela dan cacat, sebuah terminologi alay yang justru menjadi kebanggaan organisasi bernama KAMMI. Tak masalah. Meski paradoks dengan yang saya yakini, saya cukup bangga membawa label ini kemana-mana.

Pada kenyataannya, KAMMI mengakomodir dua sistem pengkaderan di waktu yang sama, diterapkan pada kader yang sama, dalam kurun waktu yang juga sama. Hal ini tentu membawa problema dilematis bagi KAMMI sebagai organisasi pergerakan mahasiswa yang independen. Di satu sisi, ia ingin melaksanakan secara total aplikasi manhaj KAMMI yang telah disusun sedemikian rupa, disisi lain ia memiliki posisi sebagai wajihah dakwah jama’ah Tarbiyah yang juga memberlakukan manhaj-nya sendiri.

Oleh karena itu, jika melihat tolok ukur keberhasilan pergerakan intelektual profetik di kampus UM ini, maka lihatlah seberapa rapi sistem pengkaderannya, seberapa siap instrumennya, dan seberapa tangguh penggeraknya.

This post created by : SLM

Ini Cara KAMMI UM Memperingati Hari Sumpah Pemuda

MALANG, 26 Oktober 2014. Hari sumpah pemuda diperingati oleh pelajar dan mahasiswa di berbagai daerah dengan cara yang unik. Khususnya mahasiswa perwakilan dari Universitas Negeri Malang yang tergabung dalam organisasi KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Para pemuda pemudi ini terus menggemparkan aksinya. Agenda kali ini yang berada di bawah kendali para kader angkatan 2013 sebagai panitia dalam rangka menyambut hari SUMPAH PEMUDA, pada hari Ahad 26 Oktober 2014 KAMMI menunjukkan aksinya dengan menyebarkan bunga dan tanda tangan di atas kain putih disertai dengan secuil kata mengenai kontribusinya sebagai pemuda untuk indonesia kedepannya. Aksi ini dilaksanakan di CFD (Car Free Day) Jl.Ijen Kota Malang mulai pukul 06.00 WIB hingga selesai. Dalam acara Sumpah Pemuda kali ini KAMMI berkolaborasi dengan P2KM (Pergerakan Pemuda Kota Malang).

STIKER2

Peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke-84 tahun ini mengangkat tema “Eksplorasi Cita Pemuda Masa Depan”. Tema tersebut membawa pesan bahwa kita semua khususnya para pemuda indonesia mempunyai harapan-harapan, impian, asa, keinginan, cita-cita dan semangat juang untuk masa depan indonesia yang lebih baik. Acara dimulai dari pembukaan kemudian tilawah, sambutan ketua pelaksana, sambutan ketua umum KAMMI, kemudian dilanjutkan dengan upacara (apel) sederhana dengan rangkaian pembacaan ikrar sumpah pemuda dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah upacara selesai, KAMMI dan P2KM melanjutkan kegiatan dengan menyebarkan bunga, selebaran dan stiker kepada orang-orang yang berada di sekitar area CFD yang kemudian memintanya untuk memberikan tanda tangan sebagai bentuk partisipasi mereka dan secuil kata mengenai kontribusi sederhananya dalam membangun Indonesia. Di dalam tanda tangan tersebut membuktikan bahwa para pemuda indonesia mempunyai harapan-harapan yang harus diwujudkan dan diperjuangkan untuk masa depan indonesia. Iringan orasi yang di lantunkan oleh ketua umum KAMMI dan dilanjutkan dengan pembacaan puisi dengan tema pemuda indonesia oleh salah satu ikhwan KAMMI angkatan 2013 yang tergabung sebagai panitia juga. Setelah itu acara dilanjutkan dengan longmarch keliling di area CFD sambil membawa kain putih yang penuh dengan tanda tangan dan kontribusi para pemuda dan orang-orang yang ikut berpatisipasi dalam menyambut hari Sumpah Pemuda dan di iringi dengan orasi. Kemudian acara di akhiri dengan penutupan oleh ketua pelaksana.

10704027_961607130519588_1827104329164671824_n

Kader KAMMI UM sedang longmarch

Acara ini dimaksudkan untuk mengingatkan kembali para  pemuda akan pentingnya peranan pemuda untuk indonesia menuju perubahan dan membangkitkan kembali cita-cita perjuangan pemuda dahulu dalam menyatukan NKRI untuk mewujudkan kesejahteraan indonesia. Ketua umum komisariat KAMMI UM Fajar Tirandhica mengatakan dalam orasinya bahwa peringatan sumpah pemuda mengingatkan kita pada pendahulu kita yang rela berjuang dan berkorban untuk bangsanya. Mereka meninggalkan ego masing-masing dan memilih persatuan meski beda suku, aliran, ras, dan agama. Kita pernah mendengar sebuah ungkapan Hasan Al Banna, “Dibalik kebesaran bangsa-bangsa di dunia salah satu rahasianya adalah pemuda”. Presiden pertama kita bahkan pernah menyatakan, “beri aku 10 pemuda, akan aku ubah dunia”. Ini menunjukkan betapa besar potensi yang dimiliki pemuda. Peringatan hari sumpah pemuda ini menjadi penting melihat saat ini banyak kita jumpai pemuda yang tidak ingin terlalu ambil pusing untuk permasalahan negerinya. Jika kepedulian pemuda akan nasib bangsanya semakin terkikis, bukan tidak mungkin negeri ini akan mengalami kemunduran. “Saya berharap para Muslim negarawan mampu menjadi teladan yang baik bagi para pemuda-pemuda bangsa yang lain, kita harus menyiapkan sosok kader-kader pemimpin yang siap berkorban untuk kemajuan negerinya” ungkapnya.

this post created by : Tika Yanuar Pratiwi

other photos :

Urgensi Peran Wanita dalam Mendidik Generasi Rabbani

Apa saja peran wanita?

Pertanyaan yang cukup sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam. Wanita, berasal dari kata “Wani ditoto”(berani diatur). Sebagai fitrah-nya wanita membutuhkan seorang laki-laki(suami) yang akan menjaganya. Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa “wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki yang paling bengkok. Maka dari itu, dalam mendidiknya harus penuh kehati-hatian dan kelembutan. Jika terlalu kasar, tulang itu akan pecah. Namun, bila dibiarkan akan semakin bengkok. Begitulah perumpamaan seorang wanita.

Okey, kita kembali ke pembahasan. Dalam benak kita mungkin terbesit sebuah jawaban “sebagai seorang ibu”. Yupz, jawaban yang cerdas, salah satu tugas wanita yang harus dilakukan adalah menjadi seorang ibu. Kita tahu, betapa pentingnya peran wanita sehingga menentukan tingginya peradaban sebuah negara. Seorang Umar bin Abdul Aziz, khalifah(red: pemimpin) dari dinasti Umawi yang terkenal begitu adil, jujur dan bertakwa. Tidak begitu saja lahir tanpa seorang peran wanita yang tangguh dan penuh ketakwaan terhadap Tuhan-Nya. Peran sentral ibu dalam mendidiknya menjadikan Umar menjadi sosok yang luar biasa saat itu.

Nah, jika kita mengharapkan generasi muda seperti Umar bin Abdul Aziz, sudah adakah wanita-wanita hebat seperti ibu Umar bin Abdul Aziz? Pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab secara langsung. Jika kita menginginkan generasi penerus yang tangguh, hebat dan bertakwa, kita harus mempersiapkan para wanita yang tangguh itu. Supaya mereka pantas melahirkan dan mendidik generasi yang hebat. Dalam hal ini, perlu adanya pembinaan dalam tiga hal. Pertama, Pembinaan ruhiyah(jiwa) supaya wanita tetap dalam kecantikan takwanya. Kecantikan yang bukan hanya terpancar dari segi fisiknya, namun karena kejujuran dan kebenaran adalah pancaran yang terlihat. Kedua, Pembinaan jasadiyah(fisik) agar wanita senantiasa sehat secara fisik. Proses mencetak generasi yang Rabbani harus dicapai dengan tenaga ekstra dan fisik yang kuat. Dan Pembinaan fikriyah(Pemahaman) sehingga ibu yang cerdas bisa mendampingi setiap tahap belajar anaknya. Berusaha menjadi ibu cerdas dan hebat dimata anaknya dengan menjawab pertanyaan dengan jawaban yang logis.

Mengapa harus dengan tiga pembinaan tersebut? Hal tersebut disebabkan, ibu adalah sekolah pertama untuk anak-anaknya. Guru pertama yang dijumpai seorang anak, yang mengajarkan kejujuran dalam berkata dan kesantunan dalam bergaul. Memberi contoh tanpa kenal lelah dan guru yang tak akan pernah memberi ulangan.

 

#pious_girl