Generasi Muda Hari Ini dan Indonesia Mendatang

Pasca Perang Dunia II, Jepang merupakan negara yang terpuruk dan terkucil akibat kekalahan yang dideritanya. Perekonomian serta infrastruktur mereka hancur. Ditengah berbagai masalah yang melanda, mereka perlahan mulai bangkit dan membangun negaranya kembali mulai dari nol. Pendidikan adalah prioritas pembangunan mereka. Selain pendidikan, ada satu kunci lagi yang membuat Jepang begitu melejit dalam pembangunan pasca Perang Dunia II. Kunci tersebut adalah adanya bonus demografi yang mereka dapatkan pada satu dasawarsa pasca PD II, sekitar tahun 1950 an.

Bonus Demografi sendiri merujuk pada keuntungan yang dimiliki oleh suatu Negara akibat jumlah penduduk usia muda yang jauh lebih banyak dari jumlah penduduk usia anak-anak dan usia tua. Jumlah penduduk Jepang sendiri terus melejit hingga mencapai lebih dari 100 juta jiwa pada tahun 1967, sekaligus menjadi pertanda keberhasilan proses pembangunan di Negara tersebut. Meskipun begitu, saat ini Jepang dihadapkan dengan masalah lain yang cukup berat dan memicu kekhawatiran yang amat besar, serta memungkinkan terjadinya masalah dikemudian hari. Penduduk Jepang mempunyai usia harapan hidup yang sangat tinggi sehingga jumlah usia tua lebih banyak dari usia muda.

Sama halnya seperti Jepang, Korea Selatan juga pernah memanfaatkan dengan baik bonus demografi  yang didapatkannya dalam kurun waktu tahun 1970an. Korea Selatan sendiri dapat memanfaatkan bonus demografi yang dimiliki ditengah konflik dan perang dengan Korea Utara yang memanas. Ada juga China yang mendapatkan bonus demografinya pada tahun 1990an. Kita dapat melihat keberhasilan China dalam memanfaatkan bonus demografi tersebut saat ini dimana China menjadi salah satu Negara yang kuat dan berpengaruh di dunia. Kedua Negara ini, Korea Selatan dan China, dapat memanfaatkan bonus demografi yang dimilikinya hingga saat ini mereka menjadi Negara maju.

Jepang, China, dan Korea Selatan adalah negara-negara yang mampu memanfaatkan bonus demografi dengan baik. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Menurut penuturan Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional Indonesia pada era kepemimpinan Presiden SBY, pada tahun 2010 lalu, Indonesia bakal mendapatkan bonus demografi pada rentan tahun 2020-2030. Satu hal yang menarik adalah, meskipun bonus demografi tersebut merujuk pada usia produktif (15-64 tahun), namun statistik dari bonus demografi tersebut didominasi oleh generasi muda. Tercatat sebanyak 180 juta dari total keseluruhan jumlah penduduk Indonesia adalah generasi muda.

Mahasiswa sering direpresentasikan sebagai prototipe generasi muda yang ideal. Hal ini merujuk pada jargon-jargon yang biasa melekat pada diri mahasiswa, seperti: Agent of Change; Iron Stock; dan Social Control. Penyematan semacam ini tak begitu berlebihan, mengingat lingkungan akademik dan juga pola pikir mahasiswa yang bisa mendukung merealisasikan jargon-jargon tersebut. Maka, tentunya harapan bagi generasi muda untuk membangun Indonesia dengan memanfaatkan bonus demografi ini secara khusus tersemat kepada mahasiswa.

Ada ulasan menarik yang dipaparkan sebuah komunitas sosial, Good News From Indonesia (GNFI), tentang bonus demografi di Indonesia. GNFI menyebutkan, Indonesia akan mengulangi siklus 600 tahunan jika mampu memanfaatkan bonus demografi dengan baik. Siklus 600 tahunan itu merujuk pada kejayaan yang didapatkan oleh kerajaan Sriwijaya (abad ke-8 Masehi) dan kerajaan Majapahit (abad ke-14) sebagai representasi dari nusantara sebelum lahirnya Indonesia.

Pada dasarnya, bonus demografi akan menuju pada salah satu dari dua hal: berhasil atau gagal. Jika berhasil, maka akan lahir sumberdaya-sumberdaya manusia terampil yang akan mampu membangun negeri sehingga menjadi Negara yang makmur. Sebaliknya, jika gagal, maka akan terjadi stagnansi negara. Oleh karena itu, Indonesia dihadapkan pada dua pilihan mengenai bonus demografi ini. Apakah kita mampu memanfaatkan hal ini secara maksimal? Pertanyaan lebih penting sebenarnya ditujukan pada generasi muda negeri ini, terutama mahasiswa. Apakah kita siap menjadi aktor perubahan sebagai tindak lanjut dari bonus demografi ini. Tentu seluruh masyarakat Indonesia menaruh harapan pada generasi muda negeri ini untuk memanfaatkan segala potensi negeri ini, entah itu potensi alam atau kependudukan, untuk membangun Indonesia sehingga menjadi sejahtera. Atau kalau tidak, bonus demografi ini hanya akan datang dan pergi tanpa ada perubahan yang terjadi, dan kita tidak akan pernah tau kapan hal itu terjadi lagi.

Kontributor: Elfarad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s