Mahasiswa Bicara Pemilu Serentak 2015

pilkada-serentak-calon-tunggal
Sumber Gambar: dakwatuna.com

Pilkada serentak pada 9 Desember 2015 menjadi moment  yang sepatutnya dicatat dalam sejarah demokrasi Indonesia. Ini merupakan gawe yang besar, pasalnya ada 269 daerah yang menyelenggarakan pilkada serentak.  Jika dipersentasekan, ada 53 persen dari total 537 daerah melakukan pemungutan suara di hari yang sama. Ibarat sebuah pesta, ini merupakan pesta besar yang dirayakan banyak pihak.

            Pemilihan kepala daerah ini adalah kesempatan emas bagi seluruh rakyat Indonesia untuk memperjuangkan haknya. Ada 269 daerah yang akan menyongsong nasib baru di tangan pemimpin baru. Pada pilkada serentak ini, bergantunglah harapan besar seluruh lapisan masyarakat, yakni kehidupan yang lebih sejahtera.

            Mari sejenak menyambangi lapangan. Pilkada serentak ini menimbulkan dilema bagi mahasiswa rantau. Sebagai kaum intelek sekaligus agent of change, mereka memiliki kewajiban untuk tidak apatis. Pilkada ini menjadi jalan tol untuk berjuang bersama rakyat memberantas generasi tua yang mengacau.

Namun di saat yang sama, mereka dibuat pusing dengan jadwal kepulangan. Sembilan Desember jatuh pada hari Rabu, di mana pada hari Kamis, banyak mahasiswa yang harus kuliah. Ini akan cukup melelahkan jika Jogjakarta-Blitar PP harus ditempuh dalam 24 jam. Pilihannya hanya dua: berpartisispasi dalam pilkada dengan melewatkan kuliah, atau tidak berpartisipasi dalam pilkada dan tidak absen dalam perkuliahan. Tanpa menunggu waktu yang lama, banyak dari mahasiswa akan memilih opsi kedua. Selain mempertimbangkan waktu, mereka juga akan mempertimbangkan biaya.

Mahasiswa yang serius ingin menjadi agent of change akan menuntut hak mereka. Sudah seharusnya pihak KPU memudahkan mahasiswa rantau untuk merayakan pesta demokrasi. Sedikit berkaca pada negeri adidaya, Amerika Serikat. Mereka telah menggunakan internet sebagai sarana pemungutan suara bagi tentara AS yang bertugas di Jepang, Iggris, dan Jerman. Kelemahan dari voting online ini adalah pada sistem keamanannya.

Lalu bagaimana Indonesia, yang peradaban sainsnya tertinggal 100 tahun lamanya dari bangsa barat?. Siapkah ia mengantisipasi titik lemah pemilu online?. Saya rasa siap, namun harus menunggu waktu yang lama. Karena Amerika yang peradaban IPTEKnya jauh di depan kita tetap mengkhawatirkan keamanan dari online voting.

Solusi yang rasanya memungkinkan adalah pilkada khusus mahasiswa rantau. KPU harus menyediakan TPS khusus untuk mahasiswa rantau dari masing-masing daerah. Mungkin memang harus mengeluarkan cukup banyak effort  demi kelancarannya, namun akan banyak apresiasi dari mahasiswa rantau. Ini akan sangat membantu mahasiswa untuk menjadi agen perubahan sekaligus manusia pembelajar.

            Jika KPU tetap diam dan tidak memberi solusi atas persoalan mahasiswa tersebut, pertanyaan yang timbul adalah: Apakah KPU siap bertanggung jawab Jika daerah-daerah di Indonesia mengalami kebobrokan karena dipimpin pemimpin yang ‘kurang sehat’?

Mahasiswa rantau,

NAF-AB1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s