Peran Mahasiswa Sebagai Agen Pembangunan dari UM

Awal saya membaca topik ini, ada sedikit rasa heran, heran karena khayal ini langsung melambung tinggi, mengingat akan semua yang ada di my first campus, semua, semuanya tanpa terkecuali, jika saya di kasih kesempatan untuk meceritakan tentang hubungan antara kampus ini dengan saya, atau bahkan sebaliknya, hubungan saya dengan kampus ini, yang intinya sama. Maka jika tulisan saya berbentuk softfile, maybe hardisk eksternal anda yang berkapasitas 1000 Terabyte pun tidak sanggup menampungnya, atau jika berbentuk hardfile, mungkin kamar kost anda yang rata-rata berukuran 3 X 3 tidak muat untuk menyimpannya yang dampak terparahnya anda harus mengungsikan diri ke kamar teman anda yang lain.  ,it just in my mind, oke, just intermezzo untuk menegendurkan otot urat syaraf in your brain.
Kembali fokus ke topik utama, kalau saya boleh jujur, sebenarnya terjadi dilema etis di dalam benak saya, saat saya mulai menulis tulisan ini, kenapa? Karena yang dibahas disini ( Pembangunan ) cukup sensitif bagi orang-orang birokrasi di kampus ini, jadi saya sedikit ragu-ragu untuk menulisnya, kecuali jika ada pihak panitia yang bertanggung jawab jika nantinya terjadi kemungkinan-kemungkinan yang tidak saya inginkan, bahkan kemungkinan terburuk mungkin saya harus merasakan hidup dibalik jeruji besi sebelum saya bisa menamatkan studi S1 saya ini.but, this is only my oppinion. Jadi panitia tidak berhak menghapus apalagi mengedit tulisan-tulisan saya, setuju kan? :-p .
Pembangunan, mari kita mulai membuka mindset kita, yang awalnya saat kita mendengar kata pembangunan, yang terlintas dibenak kita hanya pembangunan dalam bentuk fisik, seperti gedung-gedung yang semakin menjulang tinggi (fakta : paling tinggi 4 lantai. wacana : paling tinggi 7 lantai. red : gedung rektorat) di kampus kita tercinta ini. tidak, sobat. Pembangunan bukan hanya dalam hal fisik, pembangunan juga termasuk dalam peningkatan dalam keilmuan, moral, ahklak, keimanan dan ketakwaan mahasiswa yang ada di UM ini. Kita harus meluruskan niat kita, anda memilih UM dan anda juga pasti sudah tahu bahwa UM ini adalah kampus yang basicnya IKIP (75 % pendidikan, dan 25% non-pendidikan), maka, mau jadi apa anda setelah lulus dari kampus ini? Pegawai? Karyawan? Direktur? Teller Bank? Atau apapunlah, saya akan dengan lantang membantah bahwa keinginan anda itu kurang tepat, kurang tepat jika anda tidak memilih menjadi seorang pendidik, Guru, Dosen, Konsultan, Pembimbing atau apalah yang masih berhubungan dengan kegiatan membentuk karakter dan kepribadian peserta didik. Anda disini dibentuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, bermoral, beriman, dan bertakwa, yang nantinya dengan karater yang anda miliki itulah anda bisa membimbing seorang atau sekelompok manusia agar menjadi seperti anda atau bahkan lebih baik dari anda.
Sebagai seorang pendidik, yang terpenting menurut saya adalah tauladan dari diri anda, bukan nasehat. Tidak akan ada hasil yang tercapai dari suatu nasehat, apabila anda sendiri tidak melakukannya, bahkan tidak memberi contoh atau tauladan pada diri anda sendiri. Senjata utama anda adalah tauladan jika diibaratkan dengan pistol, maka tauladan itulah pistolnya, dan nasehat adalah amunisi atau pelurunya yang siap ditembakkan kepada target yang telah anda bidik sebelumnya. Di dalam sebuah Hadits Shohih, Nabi kita (bagi yang beragama islam) Muhammad SAW adalah suri Tauladan yang baik, BUKAN suri Nasehat yang baik, nabi kita telah mencontohkan sedemikian rupa, semua aspek kehidupan ada dalam perjalanan hidup beliau, bahkan beliau sering disebut-sebut sebagai Al-Qur’an yang berjalan, karena kesempurnaan akhlaknya mampu menandingi kitab suci tersebut. maka dari itu, ayo sobat-sobatku semua, sudah siapkan membenahi diri? Awali semua dari diri sendiri, lalu orang-orang terdekat anda, dan seiring berjalannya waktu maka anda pun bisa memaksimalkan peran anda sebagai mahasiswa sebagai agen pembangunan dari UM . Mulailah kita membenahi diri, merubah semua apa yang jadi kekurangan kita, untuk menjadi pribadi yang mulia, berkarakter, bermoral, beriman dan berakhlak.Semangat untuk sebuah perubahan, karena Allah akan melihat dari proses yang telah kita perjuangkan dari pada melihat hasil yang telah kita peroleh. Karena orang yang sukses, berbuat untuk memulai sedangkan orang yang gagal berpikir untuk memulai. Semangat, life is choice.

By: Dedy K (KAMMI UM 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s