INSPIRASI HARI INI, TENTANG AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Image

 

Al kisah ada sekelompok manusia sedang melaksanakan perjalanan jauh menggunakan kapal laut. Kehidupan didalamnya adalah kehidupan yang penuh cinta kasih, saling menanggung dan kerja sama. Ada suatu hal unik yang terjadi dalam interaksi antar awak kapal tersebut. Kapal itu dilengkapi teknologi untuk menyuling air laut sehingga menjadi air tawar yang sehat untuk diminum. Awak kapal bagian atas lah yang kemudian melakukan pekerjaan penyulingan itu setiap harinya. Sedangkan awak kapal bagian bawah bertugas mengolah setiap bahan mentah untuk kemudian menjadi barang jadi dan siap di makan.

Hari demi hari, terlalui dengan rutinitas yang tak berganti, hingga suatu hari akhirnya kejadian ini terjadi, suatu kisah yang akan membawakan hikmah yang tak ternilai bagi sang pembacanya. Ada sekelompok orang yang sudah mulai bosan dengan rutinitas, lelah, dengki, iri, kemudian menggelayuti jiwa yang perlahan-lahan mereka ungkapkan dalam perbuatan yang maaf, kurang terpuji.

Mereka berinisiatif untuk membuat lubang di kapal sehingga mereka tidak perlu naik ke atas untuk meminta air, mereka akan mengolah air tersebut tanpa perlu naik ke atas. Kejadian itu kemudian diketahui oleh awak bagian atas, akhirnya mereka pun juga melakukan hal yang sama, mereka memasak bahan mentah untuk mereka nikmati sendiri. Lambat laun mereka semakin kelaparan dan semakin kehausan. Sementara itu tanpa mereka sadari, sudah separo lebih dari kapal tersebut hampir tenggelam. Kapal yang dilubangi tersebut membuat jumlah air yang berada dalam kapal semakin banyak sehingga massa jenis total kapal pun semakin naik, sehingga kapal tersebut bisa dikatakan hampir tenggelam.

Di saat yang kritis, mereka semua kelelahan, lapar dan haus sementara kapal sudah hampir tenggelam, berteriaklah salah seorang dari mereka, “yaaa ayyuhannas, bertobatlah kalian dan mintalah ampun kepada Allah atas apa yang kalian perbuat, semua ini adalah karena ketamakan dan kemalasan kalian, sadarlah, meminta maaflah kalian dan kembalilah seperti semula”. Kata-kata itu begitu menggelegar dan menyadarkan seluruh awak kapal atas kesalahan yang mereka lakukan. Alhamdulillah, mereka menyadari itu dengan segera, mereka berbagi makan dan minum, mereka sehat dan bugar kembali, dan akhirnya dengan gotong royong kapal tersebut terselamatkan dari tenggelam.

Yaa, ikhwah, apa yang kemudian bisa kita ambil hikmah dari kisah tersebut. Amar ma’ruf nahi munkar itu perlu kita lakukan. Kenapa, karena jika tidak mereka yang tidak ikut berbuat munkar pun akan terkena akibatnya. Jika di dalam kapal tersebut tak ada yang menyeru untuk kembali, niscaya baik itu manusia yang baik maupun yang buruk semua akan terkena akibatnya.

Kedua, setiap kelompok ide dan pemikiran dalam sebuah organisasi-gerakan memiliki kontribusi dan potensi, apapun mereka. Baik dalam sikap, ketaatan maupun ketaktaatan mereka akan memberikan sebuah aksi kontribusi yang kemudian pasti akan menimbulkan reaksinya. Namun yang pasti akan terjadi adalah ketika kita mengusik potensial itu, maka akan timbul gaya pembaliknya. Pembalik tersebut akhirnya memiliki dua jenis potensi, yaitu potensi positif dan potensi negatif.

Ketiga, kepemimpinan. Kemudian bagaimana seorang pemimpin mampu menyatukan potensial-potensial tersebut untuk kemudian disusun kembali menjadi sebuah formula yang efektif untuk menghasilkan daya gebrak organisasi-gerakan yang efektif, efisien dan produktif. Tidak bisa seorang dalam kapal tersebut menggunakan solusi singkat dengan mengeliminasi salah satu pihak yang dinilai tidak membawa kebaikan. Jika itu terjadi maka, hanya akan menunda saja kapal tersebut tenggelam.

Akhirnya muncullah sebuah syarat bagi seorang pemimpin, pembina maupu pembicara dalam hal kebaikan layaknya seorang penyeru dalam kisah kapal di atas, yaitu al-ilmu. Ilmu bagaimana memahami karakteristik masing-masing pelaku, ilmu komunikasi, ilmu tentang perkapalan, navigasi dan keselamatan kerja.

Begitu pula aktivis organisasi-gerakan. Ilmu syari adalah modal utamanya. Janganlah kemudian menjadi manusia yang hanya pandai menasehati idealisme. Tapi tak punya sedikitpun ilmu syari. Dan yang kita sebut ilmu syari itu adalah menurut ulama ilmu aqidah, ilmu ibadah, ilmu fiqih. Bagaimana kemudian kita memahami bahwa dakwah adalah berakhir dengan perubahan perilaku. Bukan perubahan idealisme. Sedangkan perilaku menurut Islam adalah selamatnya aqidah, benarnya ibadah, mulianya akhlaq. Sama sekali tidak disebutkan berubahnya idealisme. Dakwah kita adalah dakwah tauhid, bukan dakwah idealisme.

Kemudian timbullah sebuah konsekuensi dari itu, bahwa mencari ilmu pada dasarnya adalah untuk diamalkan. Tidak untuk disampaikan. Sekali lagi pada dasarnya mencari ilmu adalah untuk diamalkan bukan untuk disampaikan. Sejauh mana ilmu yang sudah dapatkan hingga hari ini? Berapa banyak kajian yang kita ikuti? Dan sudah berapakah dari itu semua yang sudah kita amalkan. Padahal ulama’ mengatakan indikator keberkahan ilmu adalah berubahnya perilaku pada diri kita. Bukan berubahnya perilaku maupun idealisme pada orang lain.

Sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa kemenangan dakwah ini sesungguhnya bisa dilihat dari seberapa kita berubah atas perilaku-perilaku buruk kita dan negasi dari itu semua tentunya sudah kita fahami dan hati-hati. Karena akibat dari manusia yang sering menasehatkan ilmunya sementara tanpa dia mengamalkan, itu adalah seburuk-buruk akibat. Wallahua’lam bishowab.

 

                                                                                                                                Bandung, 19 September 2013

 

                                Pengajar_muda

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s