TENGOK PEMBANGUNAN UM, SUDUT MAHASISWA!

Jika minggu lalu, buletin Kebijakan Publik (KP) KAMMI, berhasil membicarakan tentang dosa-dosa BEM UM, maka kali ini mari sejenak kita kenali kampus kita tercinta ini.

UM, ladang amal plus medan perang mahasiswa, khususnya kita, barisan KAMMI. Pasti sudah pada tahu seluk beluknya kan? Dengan kata lain, so pasti kita telah ma’rifatul medan. Ibaratnya, sebelum kita terjun dalam sebuah AKSI peperangan, minimal kita mengetahui dimana lokasi perangnya, sehingga mampu menentukan sikap untuk mengambil langkah pengamanan (menyiapkan lokasi untuk merancang strategi, menempatkan amunisi, dan menyiapkan tempat pelarian atau persembunyian untuk mengamankan diri jika pasukan melemah).
Ya, hal-hal tersebut mungkin ada yang beranggapan sepele. Atau ahh,, hanya masalah teknis kurang penitng. Bolehlah! Tapi perlu beberapa orang yang tanpa sadar harus tetap memikirkannya untuk kenyamanan dan keselamatan selama AKSI perang berlangsung.

Berbicara mengenai UM, mari sejenak kita luangkan waktu berkeliling untuk mengenali lokasinya. Jika kita masuk kedalamnya lewat jalur barat (terusan ambarawa) sobat-sobat akan mendapati sebuah bangunan yang dibilang belum jadi, tapi sudah digunakan. Ya! Orang bilang namanya Kolam Renang Pendidikan. Sebutan yang menarik, namun sepertinya untuk sekarang ini lebih cocok dinamakan ’Kolam Renang Terbuka’. Karena pembangunannya yang tak kunjung diselesaikan. Jika ditelisik lebih dalam lagi pembangunan asset UM yang dikerjakan bersama Pertamina ini, tak kunjung jelas juga akan diperuntukkan pada siapa. Jika selama ini yang mempergunakannya baru mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan, maka belum tentu demikian jika sudah jadi kelak. Karena peluang untuk dikomersilkan itu ada, mengingat pembangunannya yang memakan biaya tak sedikit. (wah,,, sobat, bisa semakin gawat neh, jika RUU PT benar-benar berhasil disahkan oleh Pemerintah, masih ingatkan? Kalau didalamnya ada pasal yang mendukung hal tersebut. So, Sobat UM! jika kalian tak ingin menjadi korban komersialisme kampus yang dijadikan pasar, siap-siap pasang telinga, dan siapkan diri untuk AKSI saat rapat sidang RUU PT nanti)
Berbeda lagi, jika sobat semua memasuki UM melalui jalur utara (jalan gombong) suasana kemegahan langsung nampak ketika mata bertatap pada gedung disisi kanan jalan, terpampang nama ”Graha Cakrawala” yang memiliki nama keren ”Prestigious Convention Hall”. Kita semua perlu tahu, pembangunan gedung dengan kapasitas lebih dari 7000 orang dengan fasilitas full AC, dilengkapi penataan lampu dan audio interior yang mewah ini menghabiskan dana yang tentunya tidak sedikit, 100 milyar, namun dana tersebut masih lebih sedikit dari rencana pembangunan Graha Rektorat yang katanya akan menghabiskan sekitar 300 milyar. Ckckckck,,, gebyar kemewahan akan begitu nampak di UM tercinta. Selain itu, kampus juga akan semakin ramai dengan banyaknya acara-acara luar kampus yang siap bertendeng di gedung-gedung Megah UM. Sementara mahasiswa UM sendiri akan sibuk mencari gedung di luar kampus jika akan mengadakan kegiatan kemahasiswaan. Karena tak mampu menyewa gedung dari kampus sendiri, seperti Graha cakrawala. Dari sebuah kartu nama pengelola Graha Cakrawala, dinyatakan bahwa untuk persewaan gedung Graca satu hari mencapai harga 35-50juta. (selamatkan kesejahteraan mahasiswa… )

Maka lain lagi, jika menuju kampus UM melalui jalur timur (jalan Semarang). Jalur ini resmi dijadikan jalur utama masuk UM sejak 2011 lalu. Dibalik pagar seng yang membatasi lokasi calon Graha Rektorat UM: Citra Prestisius UM, pemandangan menakjubkan sisi lain UM, karena selain memiliki gedung Graha Cakrawala yang megah, ternyata ada danaunya juga. Pembangunan sejumlah proyek di kampus Universitas Negeri Malang (UM) terlihat mangkrak. Salah satunya adalah Gedung Graha Rektorat yang akan dibangun dengan sembilan lantai. Setelah agenda peletakan batu pertama pembangunan pada 16 Agustus lalu, belum terlihat aktivitas lagi di gedung tersebut. Penggalian tanah untuk pondasi sudah dilakukan tapi kemudian dibiarkan sehingga menjadi ”danau di tengah kampus”. (Malang Post)
Jika, terjadi pembangunan rektorat lagi, mau dikemanakan yang lama? “Selanjutnya, area lama gedung rektorat akan difung¬sikan sebagai area Fakultas Ekonomi. Per¬timbangannya adalah akses usaha di Jalan Surabaya cukup mendukung untuk dijadikan tempat praktik bagi mahasiswa Ekonomi. Jalan yang ramai didukung oleh banyaknya akses usaha tentu akan jadi ladang praktek yang tepat bagi mahasiswa FE,” (ungkap rector dalam majalah Komunikasi UM)
Namun hingga kini sesuai dengan yang diungkapkan dalam Malang Post, terlihat pembangunan Graha Rektorat masih mangkrak. Dan mahasiswa pemilik gedung yang dihancurkan (fakultas Sastra) harus merelakan diri untuk mengenyam bangku kuliah di gedung kosong yang dulunya merupakan asrama putri UM. Kondisi ini menyebabkan para mahasiswa mengalami ketidak nyamanan dalam belajar. karena sarana dan prasarananya yang kurang memadai, dan kondisi ruangan yang tidak memenuhi kuota kelas. ((kasian kasian kasian >>>versi upin ipin)
Sampai kapankah kondisi ini akan berlangsung?
Kemegahan gedung yang diharapkan mengarah pada kesejahteraan mahasiswa, kini berbalik arah mengambil kesejahteraan tersebut. Gedung-gedung pertemuan kampus menjadi ladang komersil. Perguruan tinggi unggulan yang menetaskan pahlawan tanpa tanda jasa akan beralihfungsi menjadi lembaga usaha. Kalau seperti itu, kita patut khawatir UM yang sekarang beberapa tahun kemudian menjadi UM=Universitas MATOS. (hehehe)

Kesimpulannya, UM akan memiliki Prestigious Convention Hall, Citra Prestisius UM, Kolam Renang, lapangan Tenis. Dan ditambah lagi dari pernyataan Pak rector dalam majalah Komunikasi diatas, kemungkinan besar akan didirikan pula sebuah swalayan didalam kampus. (kenapa gak bangun hotel sekalian ya?)
Wah,,, boleh neh! Makin sejahtera saja mahasiswa UM.
So, sobat UM! Sebagai Mahasiswa, kaum Intelektual, penyalur aspirasi. Masak iya akan diam saja mengetahui hal-hal yang tidak sesuai dengan hakikatnya? Nggak kan! Perlu adanya pengawalan terhadap segala pembangunan yang terjadi di UM, terkait kebijakan-kebijakan kampus.
Mahasiswa di harapkan menjadi kontrol kebijakan Rektor dan Realisasinya, jika ada hal-hal yang kurang benar dalam realisasi kebijakan Rektor maka Mahasiswa dapat membuka dialog terbuka dengan Rektor melalui BEM Universitas. (Hasil dialog BEM UM bersama Rektor Universitas Negeri Malang, 2011)
Untuk UM yang lebih baik, Mahasiswa harus aktif, bukan apatis!
Buktikan Aksimu,,jangan di kamar doank bos…

By: Petani Kecil yang Hebat
(Malang, 8 Mei 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s