Malang Kota Pendidikan

Pada festival Malang Kembali 22-25 Mei yang lalu, ingatan kita telah dibangkitkan (atau minimal wawasan kita telah ditambah) tentang sejarah kota Malang. Ya… betapa kota yang enam tahun lagi akan berusia seabad ini telah banyak menorehkan tinta emas sejarah. Kota yang terletak di atas dataran tinggi ini telah tumbuh pesat melebihi karesidenan awalnya yaitu Pasuruan.

Kota Malang terus berbenah. Dengan mengedepankan aspek pendidikan, industri dan pariwisata yang sejak tahun 1962 dikukuhkan menjadi Tri Bina Cita Kota Malang. Dan akhirnya telah menjelma menjadi kota rujukan pariwisata dan pendidikan di wilayah Jawa Timur. Tapi tunggu dulu, kalau kita mendengar jargon “Malang kota pendidikan” kayaknya kita perlu menilik lebih dalam dulu… OK, lets we see…

Pada tahun 2006 BPS mencataat jumlah SD, SMP, dan SMA yang terdapat di Malang berturut-turut sejumlah 260 buah, 90 buah, 48 buah. Sedangkan PTN/S sejumlah 73 buah. Itu adalah hasil dari berpuluh-berpuluh tahun kota Malang merenovasi diri agar pemandangan alamnya cantik (but, apa masih cantik ya sekarang..?). Nah sekarang kita bandingkan dengan jumlah siswa pada jenjang yang sama berturut-turut 72.344 siswa, 33.294 siswa, 19.645 siswa. Bagi kamu-kamu yang emang cerdas and kritis, silahkan menginterpretasikan sendiri data tersebut. Itu adalah gradasi angka yang sangat memprihatinkan!

Malang emang udah berubah sobat.., Tapi perubahan apa yang udah dibuat oleh mereka yang bertahta di kota Malang ini? Dalam kurun setengah dasawarsa terakhir, kota ini telah dipoles dengan berton-ton batubata dan semen, didempul dengan hiasan cat berwarna-warni, dan diterangi dengan beribu-ribu aliran listrik berkekuatan giga. Apa emang itu perubahannya? Yup, betul banget..

Perubahan yang paling menonjol itu bernama MALL atau PLAZA!

Kalo kita lihat catatan sejarah, dulu waktu sidang paripurna Gotong Royong Kota Praja Malang pada 1962, para pendahulu kita menetapkan pendidikan berada pada the first place dalam Tri Bina Cita Kota Malang. Berarti itu merupakan cita-cita terbesar para pendahulu kota kita yang ingin agar Malang menjadi kota pendidikan, tul nggak?? Trus siapa yang bertanggung jawab untuk merealisasikan cita-cita itu? Ya siapa lagi kalo bukan Pemerintahan Kota Malang…(ya eya lah.., masa’ ya iya donk?:)

Tapi sobat, ternyata usaha untuk menjadikan Malang sebagai kota pendidikan itu sekarang telah dikhianati.. (kok bisa?). ya iyalah.… pendidikan macam apa yang diharapkan untuk kita serta anak cucu kita nanti, ketika Pemkot sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas sarana dan prasarana pendidikan, tidak memberikan porsi khusus di sektor pendidikan baik wilayah, anggaran, dan kebijakan. Malah yang terjadi justru sebaliknya, kawasan pendidikan sekarang telah menjelma menjadi kawasan industri dan perdagangan….(repot dah…!)

Bukan Cuma itu aja sobat, berdasarkan UUD 1945 kan kita tahu bahwa pendidikan berhak atas 20% APBD. Terus kemana donk hak pendidikan yang jumlahnya segitu? Padahal APBD di Malang sekitar 720 milyar lebih… (nah loh…) Kasihan banget nggak sih rakyat kita, mau pinter aja susah. Sekarang masyarakat kita udah sering ngeluh karena banyak banget pungutan-pungutan yang harus dibayar kalo anaknya mau masuk sekolah…(capek dah…!)

Entah kenapa ya sobat, kok kayaknya para elit di kota ini belum bisa juga melihat penderitaan rakyatnya yang udah semakin parah. Mereka telah tertipu oleh keadaan yang normatif aja dan gak biasa melihat lebih tajam untuk menyelesaikan akar permasalahannya. Padahal di kota Malang aja, ketika terjadi pungutan-pungutan liar semacam ini kepala sekolahnya lansung ditegur keras. Sekali lagi, pendidikan mengalami ganjalan batu besar berupa ‘biaya’. Sesuatu yang sebenarnya secara system dan konsep sudah ada solusi tapi masih juga digerogoti oleh tindakan yang disebut ‘korupsi’. Ya…ya anggaran. Kenapa hanya bernama anggaran, tapi tidak pernah jatuh ketangan.

Emang sebenarnya gimana sih kota pendidikan itu? Sebenarnya kalo kita memenuhi permintaan masyarakat awam, kota pendidikan itu gak selalu dimaknai terlalu muluk-muluk dengan fasilitas gedung yang mentereng. Harapan umum masyarakat secara pragmatis hanya tertuju pada pendidikan murah dan berkualitas tanpa embel-embel pungutan liar. Di tengah kondisi perekonomian yang semakin sulit, mereka berharap agar biaya pendidikan bias diakses secara terjangkau. Dan satu lagi PR pemerintah yaitu: bagaimana mengubah cara pandang masyarakat kita tentang pendidikan.

Bila sector industri dan perdagangan dimanjakan dengan pembangunan banyak ruko dan Mall, knapa nggak untuk dunia pendidikan diberi kesempatan untuk menuntut ilmu dan tumbuhnya iklim usaha berbasis keterampilan dan potensi akademis? Pengennya sih gitu, coz generasi muda kita sekarang lebih kenyang berbelanja ketimbang belajar. Taman Rekreasi Kota (tarekot) yang dulunya menjadi sarana rekreasi dan pendidikan masyarakat Malang, eh… sekarang malah jadi sarana panggung dangdut..(cape’ dah) trus mau jadi apa mental generasi penerus kita ke depan???

So.. apa sikap kita sebagai generasi muda yang peduli dengan itu semua? Kita hanya bisa berusaha menunjukkan potensi besar kita di tengah berbagai macam keterhimpitan yang ada. Menjadikan mental akademis sebagai basis pergerakan, bukan mental ‘urakan’.. Berusaha tampil dalam garda terdepan, penjadi pengusung opini-opini kritis untuk perbaikan kota Malang.. That was our big dream guys…. and make it real in our deeds…

By In_tan (crew Humas)

From Ngalam Ker file

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s