AKHWAT BERPOLITIK? KENAPA NGGAK

Pemberlakuan kuota 30% dalamUndang-undang Partai Politik (UU Parpol) dan Undang-undang Pemilihan Umum (UU Pemilu) baru-baru ini merupakan sebuah indikasi bahwa peta perpolitikan di Indonesia sudah mulai menempatkan posisi bagi kaum akhwat. Quota Dalam UU No. 12 Tahun 2003, khususnya pada pasal 65, telah memberi ruang bagi partisipasi aktif kaum akhwat di Indonesia. Kondisi ini seharusnya harus benar-benar dimanfaatkan para akhwat untuk lebih memainkan perannya dalam kancah perpolitikan di tanah air. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang, sejauh mana kesiapan kaum akhwat sendiri dalam menghadapi tuntutan ini?

Hari kartini yang kita peringati tanggal 21 April kemarin setidaknya menjadi pelajaran penting bagaimana perjuangan kaum akhwat dulu dalam memperjuangkan kemerdekaan, kemerdekaan dalam mengenyam pendidikan, kemerdekaan dalam bekerja, ataupun kemerdekaan dalam berpolitik. Islam sendiri tidak pernah membedakan kaum ikhwan dengan akhwat dalam masalah ini, seperti yang pernah dikatakan oleh imam syahid Hasan al-Banna,”secara umum, wanita bukanlah jenis kelamin dibawah laki-laki. Dan kami telah menunjukkan dalil-dalil yang menunjukkan kebenaran pendapat kami bahwa wanita dalam tinjauan fiqh sebagaimana laki-laki berhak untuk berperan serta dalam pemilihan-pemilihan wakil rakyat, ia juga berhak menempati posisi sebgai anggota dewan, sebagaimana ia juga berhak memangku jabatan-jabatan kepemimpinan selain kepemimpinan tertinggi dan perangkat-perangkat dibawahnya.”

 

Merubah paradigma berpikir

Undang-undang yang melindungi hak-hak akhwat kini sudah ada, tuntutan untuk mendapatkan hak kesetaraan dalam berpolitik sudah dipenuhi, akan tetapi seringkali yang menghambat itu semua kaum akhwat itu sendiri. Seharusnya peluang tersebut benar-benar bisa dimaksimalkan karena itu merupakan hasil jerih payah perjuangan mereka tetapi realitanya ternyta berbeda. Kebebasan tersebut kurang ditunjang oleh kesiapan akwhat sendiri untuk berkiprah disana. Masih banyak keengganan dari kaum akhwat untuk masuk ke dunia politik karena anggapan politik itu kotor, susah menjaga hijab, dan bermacam-macam  Di samping itu, mereka juga masih menganggap akhwat tidak layak berkecimpung di dunia politik. Stigma seperti ini masih banyak kita lihat karena memang sebagian besar kaum akhwat belum menyadari akan hak-hak politik mereka. Paradigma berpikir seperti ini selaiknya perlu kita ubah. Bagaimanapun juga, partisipasi kaum akhwat sangat diperlukan dalam kancah perpolitikan di tanah air. Undang-undang yang mengatur tentang kewanitaan tentunya perlu ada wanita yang menyusun karena yang lebih paham masalah kewanitaan adalah wanita itu sendiri. Marilah kita bercermin kepada murabbiyah yang juga dikenal sebagai ibunya kaum akhwat, Ustadzah Yoyoh yuzroh yang sudah bertahun tahun berkarier dalam bidang politik dan menjadi anggota dewan selama 9 tahun. Murabbiyah dengan 13 anak ini tak ada yang meragukan lagi kiprahnya dalam dunia perpolitikan. Beliau pernah berkata,”kalau ada sentuhan wanita, insyaAllah politik jadi lebih indah, lebih santun, lebih damai. Seperti mesjid jika diurusi

oleh ibu-ibu, akan lebih wangi, harum, dan bersih.” Ana yakin untuk tahun-tahun kedepan, peta pepolitikan di tanah air akan lebih hidup dengan kehadiran para akhwat dan KAMMI sebagai wajihah siyasi insyaAllah akan menjadi rahim lahirnya politikus-politikus akhwat. Khusunya di komisariat kita tercinta, komsat UM telah banyak kita lihat yang duduk di pemerintahan BEM universitas mayoritas adalah akwat. Ukhty Feni, ukhty Figuri, ukhty Elis adalah sebagian contoh bagaimana kaum akhwat berpolitik di kampus. Dimana kaum ikhwan? Nantikan kehadirannya…

By : Salman Sakif, kadept kastrat KAMMI komisariat UM 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s